Rabu, 21 April 2010

MENULIS ARTIKEL ILMIAH


(Karya Popular dan Kajian Murni)

By Petrus A
PENGANTAR

Artikel mempunyai dua arti: Pertama barang, benda, pasal dalam undang-undang dasar atau anggaran dasar; yang kedua adalah karangan, tulisan yang ada dalam surat kabar, majalah, dan sebagainya. Sementara menurut Sharon Scull (1987) artikel didefinisikan sebagai bentuk karangan yang berisi analisis suatu fenomena alam atau sosial dengan maksud untuk menjelaskan siapa, apa, kapan, dimana, bagaimana dan mengapa fenomena alam atau sosial tersebut terjadi. Suatu artikel kadang-kadang menawarkan suatu alternatif bagi pemecahan suatu masalah.
Tetapi, kita akan lebih jelas lagi dengan penguraian Webster`s Dictionary yang mengartikan bahwa artikel adalah a literary compositon in a journal (suatu komposisi atau susunan tulisan dalam sebuah jurnal atau penerbitan atau media massa).

MENULIS YANG BERBOBOT

Arswendo mengatakan bahwa menulis itu gampang. Juga, banyak orang mengatakan bahwa menulis itu gampang. Siapakah yang mengatakan demikian? Kalau saja hanya sekadar menulis, memang gampang sekali: tinggal punya ide, lalu comot footnote dari buku ini itu atau dari artikel ini itu, lalu diberi kesimpulan, dan jadilah sebuah artikel. Kata Arswendo, "Itu kan hanya untuk memberi motivasi kepada manusia agar mau menjadi penulis. Tetapi, kenyataannya bukan begitu! Menulis yang standar dan berbobot itu cukup susah. Standar dan berbobot, artinya bisa dipublikasikan di media massa."
Untuk artikel yang standar dan berbobot, banyak perangkat yang kita butuhkan, seperti berikut ini:

1. Perangkat Dasar, yang meliputi:
  • Penguasaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
  • Penguasaan editing.
  • Penguasaan komputer meski hanya program WS atau Word.

2. Perangkat Peningkat, yang terdiri dari:
  • Mampu mengembangkan ide-ide yang sedang menjadi persoalan aktual di tengah masyarakat.
  • Mampu menerjemahkan nilai-nilai firman Allah ke dalam bahasa yang sangat populer dan halus.
  • Mampu menganalisis sebuah artikel yang bisa dimuat di media massa satu dengan yang lain. Di sini perlu terjadi dialog antara redaktur artikel di media massa tersebut dan seorang penulis.
  • Banyak membaca dan mencari referensi untuk artikel yang sedang ditulisnya. Tentu saja bahan yang dicari dan dibaca berkaitan dengan temanya.
  • Mengadakan penelitian baik penelitian singkat maupun secara detail terhadap masalah yang sedang ditulisnya, sehingga bobot akademisnya tampak jelas.

MENULIS KARYA ILMIAH: KAJIAN MURNI
            Salah satu bentuk karya ilmiah adalah karya yang bersifat kajian murni. Dalam menuliskan karya yang bersifat kajian murni ini, setidaknya terdapat 9 langkah yang harus diperhatikan oleh setiap penulis, yaitu survey literature, memilih bahan yang paling relevan, membaca intensif, menentukan framework, mulai menulis Isi (draft I), tulis pendahuluan dan kesimpulan, menulis isi (draft II), untuk selanjutnya edit sequence dan edit typing error !!. Berikut ini penjelasan masing-masing point diatas:

I. Survey literatur
Yang dilakukan oleh penulis pada tahap ini adalah, pertama pengumpulan bahan, baik itu berupa artikel jurnal, skripsi, buku-buku ataupun Encyclopedia. Yang kedua adalah Skimming. Skimming adalah ketrampilan membaca yang bertujuan untuk mengetahui tempat informasi tertentu dalam teks bacaan yang panjang, atau untuk menangkap secara cepat kandungan suatu teks.  Adapun tehnik skimming adalah sebagai berikut:
  1. Tidak perlu paham 100%
  2. Baca cepat dan jangan mengulang bacaan.
  3. Jangan membaca sambil bunyi
  4. Jangan membaca kata perkata dengan jari tangan, andalkan kecepaan mata anda.
  5. Jangan berhenti ketika tidak paham vocab/mufradat
  6. Jangan buru-buru berhenti untuk melacak sesuatu masalah yang mengganjal dari sumber lain.
  7. Tangkaplah poin utama pada teks bacaan anda. Jangan buru-buru menganalisa.

II. Memilih bahan yang relevan
            Pada tahap ini penulis dianjurkan untuk melakukan brainstorming, mempersempit topic dan diskusi intensif tentang topik yang akan ditulis. Dan point-point penting yang hendaknya ditekankan dalam diskusi dengan teman anda adalah:
       Apa alasan anda mengapa topik itu penting diungkapkan?
       Apa kaitan topik itu dengan diskursus para cendekiawan akhir-akhir ini?
       Apa kaitan topik itu dengan persoalan yang dihadapi ummat dewasa ini?
       Apa kaitan topik itu dengan bidang-bidang atau disiplin ilmu pengetahuan lain?
       Apa sebenarnya yang akan anda paparkan sebagai sesuatu yang baru dan menyumbang pada diskursus dan disiplin ilmu tertentu?

III. Membaca Intensif
            Membaca intensif terbagi menjadi dua tahapan, yaitu meringkas dan memberikan kutipan.

III. A. Meringkas, adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
  1. Lakukan Skimming
  2. Baca ulang teks untuk mencatat poin-poin penting
  3. Buang teks aslinya dan tulislah ulang dengan kata-kata anda sendiri
  4. Mulailah meringkas
  5. Rubahlah susunan poin-poin penting, jika perlu, agar lebih mudah dipahami
  6. Cek kembali teks itu apakah semua poin penting sudah termasuk kedalam ringkasan anda
  7. Usahakan ringkasan itu sesingkat mungkin
  8. Pisahkan komentar atau pendapat anda dari ringkasan
  9. Jika anda tidak bisa meringkas, tulislah apa adanya dan jadikan sebagai kutipan langsung (direct quotation).
            Lihatlah contoh meringkas dibawah ini:
TEKS ASLI:
Aspek paling spektakuler dalam modernisasi suatu masyarakat ialah pergantian teknik produksi dari cara-cara tradisional ke cara-cara modern, yang tertampung dalam pengertian revolusi industri.
Akan tetapi proses yang disebut revolusi industri itu hanya satu bagian, atau satu aspek saja dari suatu proses yang jauh lebih luas. Modernisasi sesuatu masyarakat ialah suatu proses transformasi, suatu perubahan masyarakat dalam segala asepk-aspeknya. Beberapa aspek hendak kami sebut disini untuk memberi gambaran dari transformasi besar masyarakat itu. Dalam menunjuk aspek-aspek proses modernisasi juga akan dikemukakan hubungan diantara gejala-gejala yang bermacam-macam. (JW.Schoorl, Modernisasi, di Indonesiakan oleh RG.Soekadijo, Penerbit PT Gramedia, Jakarta, 1981, hal.1.)

CONTOH HASIL RINGKASANNYA seperti dibawah ini:
Makna terpenting dari modernisasi adalah pergantian teknik produksi dari cara-cara tradisional ke cara-cara modern, akan tetapi makna lebih luasnya adalah suatu proses transformasi, suatu perubahan masyarakat dalam segala aspeknya. (JW.Schoorl, Modernisasi, di Indonesiakan oleh RG.Soekadijo, Penerbit PT Gramedia, Jakarta, 1981, hal.1.)
Paragraf hasil ringkasan
Diskursus mengenai agama dalam konteks situasi yang sekarang ini disebut modern dan post-modern sangat marak dikalangan sosiolog, filosof dan pemikir keagamaan. Akbar S. Ahmed,[1] Ernest Gellner,[2] David Griffin,[3] and Huston Smith[4], adalah sedikit contoh dari mereka yang membahas masalah ini.  Diskursus ini menjadi marak bukan karena semakin meningkatnya peran agama dalam kehidupan masyarakat post-modern, akan tetapi karena post-modernisme itu telah menjelma menjadi gerakan yang bermuatan doktrin-doktrin filsafat dan bahkan ditunggangi oleh kepentingan politik. Yang jelas menurut Gellner post-modernisme telah mempengaruhi kajian antropologi, kesusasteraan, filsafat dan agama.[5] Makalah mencoba menggambarkan pengaruh pemikiran postmodernisme terhadap agama.
Footnote:
[1] Akbar S.Ahmed, Postmodernisme and Islam,  Routledge, London,  1992.
[2] Ernest Gellner, Postmodernism, Reason and Religion, Routledge, London, 1992.
[3] Griffin, David, God and Religion in Postmodern World, Albany, N.Y. State University of New York Press, 1989.
[4] Smith, Huston, Beyond The Post-Modern Mind, Quest Book, The Theosophical Publishing House, Wheaton, Illinois, USA, 1989.
[5] Ernest Gellner, Postmodernism, Reason and Religion, 23.

III. B. Membuat kutipan
            Berikut ini kami berikan beberapa contoh pengutipan dalam membuat karya kajian murni:
1. Kutipan langsung
Tuhan bagi Nietzche[1] hanyalah angan-angan manusia saja, dalam karyanya Will to Power ia menegaskan sbb:
..religion is the product of a doubt concerning the unity of person, an alteration of the personality: in so far as everything great and strong in man has been conceived as superhuman and external, man has belittled himself – he has separated the two side of himself, one very paltry and weak, one very strong and astonishing into two sphere, and called the former ‘man’, the latter ‘God’
            Footnote
[1] Nietzche, Friedrich, The Will To Power, diterjemahkan oleh Walter Kaufmann and R.J.Hollingdale, di sunting oleh Walter Kaufmann, New York, Vintage Books, 1968, hal. 86-87

            2. Kutipan langsung dalam paragraph
Bagi Nietzche Tuhan adalah "everything great and strong in man [that] has been conceived as superhuman and external" dan bukan sesuatu yang secara ontologis wujud diluar dirinya.[1]
            Footnote
(1) Nietzche, Friedrich, The Will To Power, diterjemahkan oleh Walter Kaufmann and R.J.Hollingdale, di sunting oleh Walter Kaufmann, New York, Vintage Books, 1968, hal. 86-87

            3. Kutipan tidak langsung (paraphrase)
Menurut Nietzche agama adalah produk dari keraguan manusia terhadap dirinya. Sebab bagi manusia apa saja yang dirasa besar dan kuat yang datang dari luar dirinya dianggap Tuhan, sedangkan yang datang dari dalam dirinya yang dirasa lemah dan tidak penting adalah manusia itu sendiri.[1]
Footnote
[1] Nietzche, Friedrich, The Will To Power, diterjemahkan oleh Walter Kaufmann and R.J.Hollingdale, di sunting oleh Walter Kaufmann, New York, Vintage Books, 1968, hal. 86-87

            4. Cara membuat footnote
Untuk membuat footnote yang berupa buku, maka hal yang harus ditulis adalah: Pengarang, Judul buku, penerbit, tempat terbit, tahun terbit dan halaman.
Sementara untuk footnote yang berupa Journal, urutan penulisannya adalah Pengarang, "judul artikel", nama jurnal, vol. tahun, halaman.
Dan untuk footnote yang berupa skripsi, urutan penulisannya adalah penulis, judul skripsi, skripsi S1, S2, S3, nama Universitas, tempat, tahun, dan halaman.
Sedangkan untuk footnote yang berbentuk Encyclopedia, yang perlu ditulis adalah penulis, "Judul", nama Encylopedia, penerbit, tahun, tempat, nama istilah, dan halamannya.

IV. Menentukan framework
            Dalam tahapan ini anda sebagai penulis dituntut untuk bisa:
         Menentukan pandangan anda terhadap masalah yang sedang anda bahas
         Menetapkan pendekatan anda dalam membahas masalah tersebut (teologis, epistemologis, metafisis, sosiologis, sekuler, dsb)
         Menentukan metode yang akan anda gunakan

Dibawah ini contoh penentuan framework:
            Bahan Asli:
·         Modernisasi adalah  westernisasi.
·         Modernisasi adalah upaya memajukan masyarakat.
·         Modernisasi adalah keharusan zaman modern
·         Kendala modernisasi adalah agama.
·         Modernisasi bertentangan dengan aqidah Islam
Bahan yang disusun dengan framework:
Prinsip : Modernisasi adalah konsep Barat yang berbeda dari Islam
       Makna modernisasi menurut Barat.
       Tujuan Modernisasi
       Modernisasi dan perkembanan zaman
       Modernisasi dan agama
       Modernisasi dan Islam

V. Mulai Menulis

            Pada tahapan yang kelima ini, seorang penulis dianjurkan untuk melakukan hal-hal dibawah ini:
a. Penyusunan outline
            Dalam penyusunan outline sebuah karya bersifat kajian murni, seorang penulis dianjurkan untuk mengikuti komposisi tulisan sebagai berikut:
  • Pendahuluan sebanyak 10% - 20% dari keseluruhan karya
  • Isi sebanyak 60% - 80%  dari keseluruhan karya (Bisa terdiri dari beberapa paragraph)
  • Penutup sebanyak 10% - 20% keseluruhan karya

b. Menulis Pendahuluan (Introduction):
Pendahuluan berisi pernyataan umum dan informasi faktual yang menarik pembaca untuk memahami topik dan isi diskusi. Pernyataan dalam pendahuluan harus menggiring pembaca memahami ide inti dan tujuan penulisan yang disebut thesis statement. Untuk itu pembahasan dalam pendahuluan harus mengerucut atau menyempit menjadi satu maksud atau poin yang jelas. Dan Panjangnya paragraf harus sebanding dengan isi karangan.
Contoh Pendahuluan:
Pada tahun-tahun terakhir ini realisme saintifik dan kritis, dan juga berbagai bentuk anti-realisme, merupakan topik perdebatan yang hangat. Karya-karya para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu menyampaikan ketrampilan beragumentasi dan menggunakan contoh-contoh menarik dari sejarah sains. Kesemuanya merupakan bacaan yang menarik.
Tujuan saya disini adalah untuk menyoroti salah satu gambaran dari perdebatan itu dan menjelaskannya dengan sedemikian rupa sehingga diharapkan dapat memberi pencerahan pada keseluruhan isu.

c. Isi (Body)
            Pada bagian inilah, seorang penulis:
  1. Mengembangkan ide-ide dan isu-isu kunci dalam pendahuluan
  2. Menyusun Ide-ide itu secara logis dan koheren
  3. Dalam menulis isi karangannya harus sejalan dengan tujuan, sehingga pembaca dapat mengikutinya dengan mudah
  4. Penulis juga harus memperhatikan hubungan antar paragraf dalam isi agar mudah ditangkap pembaca, dan hendaknya Satu paragraf hanya mengandung satu ide. Setiap ide-ide dalam paragraf harus disampaikan secara jelas dan didukung oleh argumentasi
Pengertian Paragraf
Paragraf adalah serangkaian kalimat yang membentuk suatu ide. Ide suatu paragraf itu biasanya dinyatakan secara umum dalam satu kalimat yang disebut kalimat topik (topic sentence). Kalimat lain dalam paragraf itu berisi penjelasan, pembuktian, ataupun contoh yang mendukung kalimat topik. 
Kandungan paragraph: Setiap Paragraf terdiri dari :
                    i.      Satu kalimat topik (topic sentence)
    • berisi kalimat paling umum dan penting
    • berisi ide yang berfungsi mengontrol seluruh ide
ii.   Kalimat pendukung (topic sentence);             Biasanya terdiri dari 4 s/d 8 kalimat-kalimat yang:
·         menjabarkan (explain)
·         mendefinisikan (define)
·         menjelaskan (clarify)
·         memberi contoh (illustrate)
Contoh kalimat topik
Problem paling serius yang dihadapi perguruan tinggi di Indonesia adalah bertambahnya jumlah mahasiswa yang gagal ujian mata kuliah berkali-kali.
Penjelasan kalimat topik:
·         Mengapa problemnya serius
·         Berapa jumlah mahasiswa yang gagal
·         Apa sebenarnya yang membuat ini menjadi problem
Contoh pengembangan kalimat topik menjadi sebuah Paragraf :
Topik: Naik sepeda di Eropa
A.     Relatif lebih murah
      a. Harganya
      b. Perawatannya
B.    Lebih sehat
      a. Lebih banyak olahraga
      b. Tidak ada polusi
C.   Lebih Memuaskan
      a. Menikmati panorama
      b. Menjadi bagian dari alam
Kesimpulan :
Singkatnya, sepeda adalah sarana transportasi yang menyenangkan.
Contoh Paragraf
Di Eropa naik sepeda lebih disukai daripada naik mobil. Pertama-tama, sepeda harganya dan pemeliharaannya relatif lebih murah. Mobil harganya ratusan ribu euro, dan pemeliharaannya pertahun bisa mencapai puluhan ribu, sedangkan harga sepeda hanya ratusan euro atau lebih, dengan pemeliharaan yang lebih murah.  Bersepeda juga lebih sehat; bagi pengendara sepeda bukan hanya dapat berolah raga lebih banyak dibanding sopir, tapi bersepeda juga tidak mengakibatkan polusi. Otomatis, seseorang yang berkaki dan jantung kuat itulah sebenarnya yang membantu lingkungan yang bersih. Akhirnya, berbeda dari mengendarai mobil, bersepeda itu secara pribadi lebih memuaskan. Ketimbang menjadi robot di dalam sebuah mesin, mengayunkan pedal sepeda sambil menikmati panorama menjadikannya bagian dari alam. Singkatnya, sepeda adalah sarana transportasi yang menyenangkan.  
Kalimat topik: Di Eropa naik sepeda lebih disukai daripada naik mobil.
Penjelasan 1: Pertama-tama, sepeda harganya dan pemeliharaannya relatif lebih murah….dst
Penjelasan 2: Bersepeda juga lebih sehat; …………dst 
Penjelasan 3: Akhirnya, berbeda dari mengendarai mobil, bersepeda itu secara pribadi lebih memuaskan.
Kesimpulan:  Singkatnya, sepeda adalah sarana transportasi yang menyenangkan.  

Cara membuat ide Pendukung Dalam Paragraf:
       Mengemukakan fakta, contoh:
Selama berabad-abad kebudayaan Jawa telah dipengaruhi oleh Animisme dan Hinduisme. Meskipun agama-agama baru berkembang dikalangan masyarakat – Islam, Katholik dan Protestan – masih banyak masyarakat yang percaya bahwa upacara tradisional bagi orang Jawa adalah wajib.
       Memberi contoh, misalnya:
Jika mereka tidak menjalankan kewajiban ini, mereka percaya nasib buruk akan menimpa mereka atau keluarga mereka.
       Memberi diskripsi fisik
       Memaparkan pengalaman pribadi, contoh:
Ketika tunangan saya dan saya memutuskan untuk menikah, keluarga saya menyarankan agar kami mengadakan upacara tradisiona untuk perkawinan, dan kami setuju.

Cara mengembangkan Paragraf
Paragraf disusun dan dikembangkan dengan bermacam-macam metode, sesuai dengan topik dan pembaca, semisal:
  1. Paragraf proses yaitu bentuk analisa dimana cara melakukan sesuatu di kelompokkan dan diuji dalam bentuk paragraf "how to"
  2. Paragraf "definisi" adalah metode analisa dimana subyeknya diidentifikasi menurut kelas, genus dan diferensia
  3. Paragraf "perbandingan" (compare-contrast) adalah metode pembahasan yang membandingkan (mencari kesamaan dan perbedaan)
  4. Paragraf "klasifikasi" adalah metode analisa yang membagi orang, tempat, sesuatu dan ide kedalam kelompok berdasarkan kreteria umum
  5. Paragraf "kausalitas" adalah metode eksposisi induktif untuk menjelaskan mengapa sesuatu terjadi
Contohnya: seperti yang tertera dari sebuah Thesis statement: Daerah pedesaan di Mesir mempunyai 3 problem serius: kemiskinan, kekurangan pendidikan dan perawatan kesehatan.
Kemiskinan merupakan faktor penting di pedesaan Mesir. Kemiskinan dapat diukur dari pendapatan dan belanja masing-masing kepala keluarga di desa (definisi). Jumlah pendapatan penduduk desa di Mesir per bulan rata-rata 500 pound Mesir (fakta). Seorang penjual sayur di Iskandariyah mengaku memperoleh keuntungan antara 500 s/d 1000 pound per bulan (contoh)

Menyusun Paragraf Induktif
Dalam menyusun paragraph induktif sama halnya tatkala kita menyusun argumentasi dg premis, rumusnya sebagai berikut:
            A = B
            C = A
            C = B
Ket:
A= Setiap Makhluk Hidup
B= Pasti Akan Mati
C= SBY

Menyusun Paragraf dengan Premis
       Setiap pondok bersistem madrasah yang berasrama memiliki sistem belajar yang efektif
       Gontor adalah pondok yang bersistem asrama
       Maka Gontor memiliki sistem belajar yang efektif
Premis diatas dapat diuraikan ke dalam bentuk paragraph dibawah ini:
a. Setiap pondok yang bersistem madrasah dan berasrama memiliki system belajar yang efektif. Dalam sistem ini kegiatan belajar para santrinya dikontrol oleh para pengasuh dan kyai, dari sejak bangun tidur hingga waktu tidur malam. Semua didesain untuk tujuan pendidikan dan pengajaran.
b. Gontor adalah pondok pesantren yang menerapkan sistem madrasah, yaitu madrasah yang diasramakan. Para santrinya di diwajibkan masuk asrama dengan disiplin yang ketat, agar para santri mendapat kesempatan belajar yang lebih banyak. Para guru dan pengasuh memiliki tanggung jawab mengontrol kegiatan kependidikan para santri di dalam dan diluar kelas.
c. Maka dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sistem madrasah yang diterapkan pondok Gontor sangat efektif untuk sistem belajar para siswa.

Paragraf dengan premis di akhir
Berikut ini kami berikan contoh paragraf dengan premis di akhir, dengan acuan konklusi dan premis-premis berikut ini:
a.       Gontor memiliki sistem belajar yang efektif(Konklusi).
b.      Sebab Gontor adalah pondok yang bersistem asrama (P.Mayor),
c.       Dan setiap pondok bersistem madrasah yang diasramakan menurut Prof.Dr. H. A. Mukti Ali memiliki sistem belajar yang efektif (P.Minor).
Sistem belajar di Pondok Modern Gontor dikenal sangat efektif untuk proses belajar mengajar para santri. Hal ini telah berjalan sejak ia didirikannya pada tahun 1936. (Konklusi )
Sebab Gontor adalah pondok pesantren yang menerapkan sistem madrasah, yaitu madrasah yang diasramakan. Para santrinya di diwajibkan masuk asrama dengan disiplin yang ketat. Ini dimaksudkan agar para santri mendapat kesempatan belajar yang lebih banyak. Para guru dan pengasuh memiliki tanggung jawab mengontrol kegiatan kependidikan para santri di dalam dan diluar kelas. (Premis Mayor)
Menurut Prof. Dr.HA.Mukti Ali, setiap pondok yang bersistem madrasah yang berasrama memiliki sistem belajar yang efektif. Dalam sistem ini kegiatan belajar para santrinya dikontrol oleh para pengasuh dan kyai, dari sejak bangun tidur waktu tidur malam. Semua didesain untuk tujuan pendidikan dan pengajaran. (Premis Minor)

Mengontrol kutipan
                        Berikut ini contoh cara mengontrol kutipan:
Setiap pondok yang bersistem madrasah yang berasrama memiliki sistem belajar yang efektif. Dalam sistem ini kegiatan belajar para santrinya dikontrol oleh para pengasuh dan kyai, dari sejak bangun tidur waktu tidur malam. Semua didesain untuk tujuan pendidikan dan pengajaran. Menurut Prof. Dr.HA.Mukti Ali: "Sistem pendidikan yang paling efektif adalah sistem madrasah yang diasramakan". (footnote)

Menyusun paragraf Compare-Contrast
         Seperti juga pondok-pondok lain yang bersistem madrasah Gontor tetap menerapkan sistem ujian semester. (Compare). Setiap setengah tahun sekali para santri mengikuti ujian evaluasi belajar.
         Akan tetapi tidak sistem ujian di Gontor tidak mengikuti ujian yang diadakan oleh Departement Agama. (contrast) Soal-soal ujian di Gontor disusun oleh guru-guru dan dievalusasi oleh guru-guru sendiri.
Kesimpulan
       Kesimpulan disusun dengan merujuk kepada semua yang telah dibahas dalam isi, tapi tidak mengulang-ngulang.
       Mulailah kesimpulan anda dengan pernyataan yang semakin spesifik yang berkaitan dengan paragraf akhir dalam isi, lalu kembangkan menjadi kalimat akhir.
       Kesimpulan bisa berupa ringkasan yang tidak persis sama dengan isi yang dibarengi dengan saran-saran,  prediksi dan solusi suatu problem dalam isi.
       Kesimpulan berkaitan secara integral dengan thesis statement
       Kesimpulan harus bisa menunjukkan bahwa thesis anda benar-benar valid
Resume-1
A. Pendahuluan Introduction:
  1. Tulislah sesuatu yang menarik bagi pembaca dan  perkenalkan topik pembahasan anda
  2. Jelaskan istilah istilah penting melalui latar belakang masalah
  3. Kemukakan thesis statement
B. Isi (Body)
  1. Setiap paragraf terdiri dari kalimat topik yang berkaitan dengan thesis statement
  2. Tiap paragraf mengandung kalimat pendukung kalimat topik
  3. Setiap paragraf disusun secara urut (sequence)
  4. Setiap dan antar paragraf mempunyai alat (kata) sambung (signpost)
C. Kesimpulan / Conclusion:
  1. Kesimpulan harus berkaitan dengan thesis statement secara integral
  2. Tidak ada ide baru dalam kesimpulan, semua merupakan muara akhir dari ide-ide yang dibahas dalam isi.
Resume-2
Kesatuan Paragraf
Kesatuan paragraf dapat di atur dengan menghubungkan antara satu paragraf dengan paragraf yang lain secara konsisten. Jika tulisan diibaratkan sebagai proses perjalanan (ide) maka cara paling effektif untuk itu mengontrol arah perjalanan itu adalah dengan mengajukan beberapa pertanyaan:
    1. Akan kemana anda (intro)
    2. Dimana anda sekarang (body paragraph)
    3. Apa yang akan lakukan sekarang (signpost)
    4. Apa tujuan anda selanjutnya (signpost)
    5. Kapan anda sampai ke tujuan (conclusion)


Mari Menulis Artikel Populer (Non Kajian Murni)

Langkah Awal
Sebelum melangkah lebih jauh dan mulai asyik menulis artikel ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan agar proses pembuatan artikel tidak terganggu di tengah jalan:
  1. Kemana akan dikirim?
Sebelum mulai menulis tentukan dulu ke media mana artikel tersebut nantinya akan dikirim. Selanjutnya buatlah artikel berdasarkan segmen pembaca media yang bersangkutan. Sebuah artikel mengenai Natal yang ditujukan untuk surat kabar umum tentu saja memiliki pemaparan yang berbeda dengan artikel yang ditujukan untuk majalah Kristen.
  1. Mempersiapkan Bahan
Persiapkan bahan-bahan pendukung yang dirasa perlu seperti kamus, buku penunjang, kliping, dan bahan-bahan lain yang menyediakan informasi yang kita perlukan.
  1. Situasi yang Mendukung
Pilihlah tempat yang bisa membuat Anda menuangkan ide dengan lancar tanpa ada gangguan. Agar lebih nyaman siapkan juga air minum, dan makanan ringan secukupnya. Hal ini untuk membantu agar Anda tidak bolak-balik berhenti menulis sebentar, mengambil minuman, lanjutkan menulis, berhenti menulis lagi, mengambil makanan, dst yang tentu saja akan menguras tenaga.

Memulai Menulis
Ada banyak cara yang bisa orang kembangkan untuk mulai menulis artikel. Beberapa orang bisa langsung mengerjakannya tanpa terlebih dahulu membuat sketsa karangan atau poin. Mereka cukup memiliki ide dan mengembangkan urutan penyampaian di pikiran setelah itu menuangkannya ke dalam bentuk tulisa. Namun, ada juga yang memulainya dengan membuat sketsa artikel terlebih dahulu sebagai panduan menulis.
Bagi Anda yang belum terbiasa menulis, cara-cara sederhana dibawah ini dapat Anda pakai sebagai panduan dalam mengembangkan pemikiran Anda mengenai satu masalah menjadi suatu artikel.
Langkah pertama ialah "Menentukan Tema dan Judul" yang tentunya sesuai dengan ide yang Anda miliki. Setelah tema selesai dibuat segera tentukan judul dari tulisan yang akan dibuat. Jika tema menjadi inti atau nafas dari artikel maka judul menjadi wajah dari sebuah artikel. Judul akan menentukan apakah seseorang tertarik untuk membaca artikel tersebut atau akan mengabaikannya.
Beberapa penulis terbiasa membuat judul sebelum tulisannya dibuat tetapi yang lain akan membuat judul setelah tulisannya selesai dibuat. Dengan membuat judul terlebih dahulu maka Anda dapat membuat suatu tulisan tetap terjaga tidak melenceng ke kanan maupun ke kiri karena dipandu oleh judulnya. Sementara itu jika judul ditentukan setelah tulisan selesai maka dikhawatirkan tulisan tersebut dapat melenceng dan bisa saja tidak lagi memiliki makna karena tidak ada panduan.
Langkah kedua ialah "Membuat Sketsa Artikel" atau poin-poin artikel. Sketsa artikel memiliki peran lebih dari sekadar penjabaran ide. Sketsa ini sangat berguna jika Anda tidak dapat menyelesaikan artikel tersebut dalam waktu singkat. Artinya jika Anda harus berhenti dalam waktu cukup lama dan ingin melanjutkan artikel Anda maka sketsa artikel akan menolong Anda, mengingat kembali ide-ide apa saja yang dulu ingin Anda tulis.
Langkah ketiga, tentu saja "Mengembangkan Sketsa Artikel" yang telah Anda buat menjadi sebuah artikel dengan berdasarkan informasi yang kita miliki. Karena pendahuluan merupakan gerbang awal suatu tulisan maka disarankan untuk membuat pendahuluan semenarik mungkin. Beberapa penulis mengisi pendahuluan dari tulisan mereka dengan anekdot, ilustrasi, kutipan ayat alkitab, atau pertanyaan yang menarik.
Setelah selesai membuat artikel langkah keempat yang tidak boleh Anda lupakan ialah "Baca Lagi dan Lakukan Perbaikan Seperlunya". Koreksi tersebut bisa meliputi tanda baca, kalimat ambigu, atau informasi yang tidak akurat. Sebaiknya koreksi ini dilakukan beberapa saat setelah artikel selesai dibuat. Jadi ada waktu untuk menenangkan pikiran setelah sebelumnya terkuras untuk menulis. Ada baiknya bila Anda meminta orang lain yang lebih berpengalaman untuk mengomentari artikel Anda.

Bagaimana Menulis Artikel di Media Massa?

Pada saat ini, menulis artikel di media cetak (dan elektronik) sudah menjadi kegiatan yang terhormat dikalangan intelektual. Identitas dan otoritas seorang intelektual akan terangkat jika ia dikenal sebagai seorang penulis artikel. Dengan menulis artikel di media cetak, seseorang akan dikukuhkan sebagai warga intelektual.
Namun demikian, bukan berarti "kaum non intelektual" tidak memiliki kesempatan yang sama untuk menulis artikel di media massa. Belakangan ini, sudah banyak para praktisi, profesional di bidang tertentu dan penulis lepas (freelance) yang melakukan hal sama. Ini tentu fenomena yang menggembirakan, meskipun secara kuantitas jumlah mereka tidak begitu banyak.

Kenali Media

Isi sebuah media, sekurang-kurangnya terdiri atas dua hal pokok. Pertama Fakta dan kedua Opini. Fakta disajikan dalam bentuk berita (meskipun ada banyak media massa yang beritanya ditulis dengan unsur subjecktivitas tinggi), sedangkan opini diwujudkan dalam bentuk karikatur, tajuk, surat pembaca, kolom, surat pembaca dan artikel. Biasanya, surat pembaca dan artikel memang ditulis oleh penulis luar dalam hal ini adalah pembaca dan masyarakat luas. Rubrik ini ditujukan sebagai sarana membangun komunikasi dua arah antara redaksi dengan pembacanya. Di beberapa media tertentu, pengaruh surat pembaca sangat siginifikan. Misalnya di media nasional seperti KOMPAS dan TEMPO.
Seseorang yang ingin menulis artikel di media massa harus paham bahwa media yang ia tuju adalah media yang dibaca oleh banyak orang. Artinya secara teoritis pembacanya adalah orang-orang yang beragam baik dari sisi usia, pekerjaan, sosial ekonomi, jenis kelamin dan tingkat pendidikan. Implikasinya, ia harus bisa membuat artikel yang bisa mudah dimengerti oleh semua kalangan pembaca, termasuk didalamnya efek sosial politis yang mungkin timbul dari tulisannya tersebut.
Meskipun pada umumnya ditujukan untuk kalangan umum, setiap media memiliki kekhususan tertentu. Dalam bahasa bisnis disebut sebagai segmen pasar. Ada penerbitan yang isi artikel ditujukan hanya untuk konsumen bisnis seperti majalah ekonomi dan swasembada. Khusus dibidang komputer seperti CHIP, Elektro indonesia, Komputek. Majalah keluarga seperti Femina dan Bunda. Majalah keisalaman seperti Sabili, Tarbawi, Elfata, Hidayatullah dsb. Media massa umum seperti Jawa Pos, KOMPAS, Suara pembaruan, Republika, Suara Karya, Surabaya Post dan sejenisnya tetap memiliki segmen yang berbeda. Semua tergantung kebijakan redaksi masing-masing.
Oleh karena itu, mengenali karakteristik media yang dituju menjadi sesuatu hal yang sangat mutlak bagi penulis artikel. Seorang penulis artikel harus memahami "selera" dan "Misi" setiap penerbitan masing-masing. Menulis artikel di Jawa Pos memerlukan pendekatan yang berbeda ketika kita menulis artikel di media lokal. Karena keduanya memiliki ciri khas masing-masing.

Aktual

Apa sebenarnya yang ingin dijual oleh media massa ? INFORMASI. Tepat sekali. Karena itu salah satu kehebatan sebuah media biasanya diukur lewat pertanyaan "seberapa aktual informasi yang disajikan?". Nah, penulis artikelpun harus mengikuti jalur ini.
Untuk bisa mengetahui aktualitas berita, penulis artikel dituntut untuk gemar membaca dan membaca. Karena itu, sebelum memutuskan untuk menjadi penulis syarat mutlak yang juga perlu dijawab adalah "seberapa besar minat kita untuk membaca?" Lupakan saja menjadi penulis artikel yang baik jika memang tidak suka membaca.
Aktualitas artikel bisa diperoleh dengan mengamati fenomena-fenomena yang saat ini sedang terjadi. Misalnya, ketika terjadi bom Bali II silam, insting seorang penulis langsung bilang "Berarti sistem pertahanan kita lemah". Berangkat dari situ dan didukung sejumlah referensi, maka bisa saja tercipta sebuah artikel dengan judul "Teknologi Pencegahan Terorisme". Atau ketika ramai-ramainya protes warga korban SUTET PLN di Jakarta,  akan ada kemungkinan munculnya sebuah tulisan dengan judul "Berbahayakah Radiasi SUTET". Sebenarnya secara subtansial bisa saja isi artikel tidak terlalu mendalam (bahkan untuk ukuran intelektual sangat dangkal), tetapi karena media menginginkan sesuatu yang aktual, fresh dan baru maka yang demikian pun bisa dimuat. Logikanya mungkin begini "Jelek-jelek dikit gak apalah yang penting aktual, ketimbang artikelnya bagus tapi basi!!!".
Nah, jika mau jeli, ada banyak kejadian di masyarakat yang bisa dianalisa. Misalnya lagi tentang berita masuknya majalah Playboy, Impor beras, CPNS atau tentang bencana alam yang hingga hari ini masih terus terjadi. Sekali lagi, kuncinya hanya satu : Banyak-banyaklah membaca.

Dari Media Kecil

Jika kita seorang penulis pemula, jangan memaksakan diri untuk menulis artikel di media cetak besar. Lebih baik jika memulai mengirim artikel pada media lokal sembari mulai mengenalkan diri kepada redaksi. Syukur jika bisa secara rutin menulis di media yang bersangkutan. Pada umumnya, redaksi media cetak lokal justru memiliki banyak waktu untuk menyeleksi dan memberi komentar terhadap artikel yang masuk.
Ada baiknya juga jika kita menjadi penulis dengan spesialiasi khusus. Bukan berarti menulis sembarang tema tidak boleh, tetapi biasanya redaksi akan memberikan peluang lebih bagi artikel yang ditulis sesuai dengan kompetensinya.
Penulis-penulis yang sudah punya namapun biasanya hanya akan menulis artikel sesuai dengan kompetensinya. Sebut saja, Yohannes Surya dan Terry Mat yang konsisten menulis tentang dunia ke-fisika-an. R Panca Dahana dengan tulisan seputar kebudayaan. Indra J. Pillang biasanya menulis tentang pemilu. Taufik yang biasa menulis artikel tentang astronomi di KOMPAS. Anita Lie, Ki Supriyoko lewat tulisannya seputar pendidikan. Hermawan Kartajaya dengan kolom-kolom marketingnya. Juga ada Hernowo yang biasa menulis artikel tentang baca-tulis atau Tommy Su yang biasa membahas masalah akulturasi kebudayaan. Di Surabaya, ada Pak Alisyabana yang identik dengan tulisan-tulisan tentang problematika tata kota.
Akhirnya, yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang penulis adalah soal etos kerja. Menulis artikel memerlukan sebuah ketekunan dan kadang-kadang membutuhkan riset kecil-kecilan untuk mendukung validitas data yang kita tulis. Displin untuk tetap menulis, meskipun artikel yang kita kirim belum juga dimuat.

Berlatih Terus-menerus

"Tak ada sesuatu yang berarti datang dengan mudah. Separuh usaha tidak berarti memberikan separuh hasil, atau bahkan tidak memberikan hasil sama sekali. Bekerja, bekerja terus, dan bekerja keras merupakan satu-satunya untuk memperoleh hasil pada akhirnya." -Hamilton Holt
"Jika sesuatu dilakukan dengan upaya kerja keras dan bukannya dengan bakat, maka itu merupakan kemungkinan pengganti yang paling baik." -James A. Garfield

Dua pepatah di atas sebenarnya sudah bisa menjawab ulasan bagian ini, jika kita mau berhasil, maka kita harus bekerja keras. Gagal sekali, terus ulangi lagi. Gagal dua kali, ulangi lagi. Gagal tiga kali, ulangi lagi. Kita harus terus-menerus mengulanginya, pasti suatu saat kita akan berhasil. Karena Allah memang memberi kemampuan kepada kita untuk berhasil.
Menulis, berarti kita memasuki dunia ketrampilan. Semakin sering seseorang menulis, maka ia semakin trampil. Semakin trampil seseorang menulis, maka ia semakin menghasilkan tulisan yang berbobot. Karena ia harus terampil bertata bahasa dan EYD yang baik, juga terampil menuangkan gagasan yang ada, terampil membaca kondisi masyarakat, terampil mencari footnote, dan terampil untuk memperdalam masalah.

Menguji Artikel dalam Lomba-lomba

Salah satu hal untuk mengenal karakter artikel yang dimuat di media massa atau dianggap berkualitas, seseorang jangan ketinggalan untuk tidak memperhatikan artikel-artikel juara lomba. Banyak perlombaan penulisan artikel yang diadakan oleh berbagai departemen, yayasan, atau lembaga lainnya. Hal ini membuat kesempatan bagi para penulis untuk mencoba menguji artikel mereka dengan mengikuti lomba menulis artikel tersebut.
Seorang penulis artikel yang kreatif biasanya rajin mengikuti lomba-lomba kepenulisan artikel. Meski temanya berbeda-beda, bahkan ada tema yang tidak ia kuasai, tetapi karena ia sudah terlatih menulis artikel, maka hal itu tidaklah sukar. Cukup ia mencari bahan-bahan yang hendak ditulis dan dipelajari dalam beberapa hari, lalu ia menulisnya. Jangan takut kalah dalam lomba kepenulisan artikel. Juga jangan putus asa. Biasanya setiap tahun lomba semacam itu diadakan kembali oleh panitia yang sama. Untuk itu, terbuka kesempatan untuk ikut kembali. Dan, juga jangan sombong kalau menang, karena biasanya, peminat lomba kepenulisan artikel tidak banyak. Biasanya tidak lebih dari 50 artikel yang masuk, bahkan umumnya hanya 10 artikel yang masuk.

 Disarikan dari:
1. Hamid Fahmy Zarkasyi: Proses Penulisan Karya Ilmiyah
2. Harianto G.P.: Teknik Menulis Artikel, Agiamedia, Bandung, 2000
3. Hardhono: Mari Menulis Artikel
4. Nurhadi, Editor buletin AKSARA, Bagaimana Menulis Artikel di Media



0 komentar: